H
ZACK FAIR
Zack Fair adalah seorang prajurit Shinra Kelas 1. Itu artinya ia adalah satu dari sedikit prajurit tertinggi Shinra. Prajurit Kelas 1 yang lain diantaranya adalah Angeal, Genesis dan Sephiroth. Mereka semua terkenal di kalangan masyarakat, bahkan sampai ada yang membuat fan club. Zack adalah seorang laki-laki yang ceria (berbeda sekali dengan Cloud). Cita-citanya adalah menjadi seorang pahlawan.AERITH GAINSBOROUGH
Aerith adalah orang Ancient terakhir yang masih hidup. Ia tingal di pemukiman kumuh Midgar bersama ibu angkatnya. Aerith-lah merawat bunga-bunga yang tumbuh di gereja. Disana adalah satu-satunya bunga yang tumbuh di Midgar yang penuh polusi. Aerith adalah seorang gadis yang periang.CLOUD STRIFE
Cloud adalah seorang laki-laki yang pemikir, kelihatan pemurung, dan introvert. Ia mengenal Zack ketika melaksanakan misi bersamanya. Kehadiran Aerith dalam hidup Cloud akhirnya meninggalkan jejak tak terhapuskan dalam hati dan diri Cloud.Zack mati karena melindunginya di sepanjang perjalanan Nibelheim sampai ke Midgar.
Cloud merasa malu pada Tifa karena ia gagal masuk menjadi Soldier. Karena itulah ia bersembunyi dengan memakai topeng ketika berada di Nibelheim, kota kelahirannya dan Tifa.
TIFA LOCKHART
Tifa adalah seorang gadis yang introvert. Ia menyimpan perasaan mendalam pada Cloud, namun tidak pernah bisa mengungkapkannya. Sebenarnya sejak kecil Cloud sudah menyukai Tifa, namun Tifa tidak memperhatikan Cloud. Tifa menunjukkan perasaannya dengan perbuatan, bukan kata-kata.Pertemuan Zack dan Aerith (Final Fantasy VII Crisis Core)
Ketika sedang melakukan misi bersama Sephiroth di Midgar, tanpa sengaja Zack terjatuh dan menimpa kebun bunga Aerith di dalam gereja.
"Haaalllooooo?????" seru Aerith, berusaha membangunkan Zack yang jatuh pingsan.
Zack terbangun. "Apakah ini surga?" tanya Zack linglung.
"Sayangnya, bukan." jawab Aerith.
"Apakah kau malaikat?" tanya Zack lagi.
Aerith tertawa dan menggeleng. "Kau jatuh dari atas." Ia menunjuk ke arah atap gereja. "Kau membuatku sangat terkejut."
"Maafkan aku." kata Zack, bangkit dan berdiri di hadapan Aerith. "Kalau begitu, kaulah yang menolongku?"
"Hmm... Tidak juga." jawab Aerith. "Yang kulakukan hanyalah berkata 'Hallloooo???'"
Zack tertawa. "Kalau begitu, aku harus memberi sesuatu padamu atas 'Halllooo??'-mu." kata Zack.
Aerith menggeleng. "Tidak, tidak perlu." katanya.
"Tidak, tidak, aku ingin." Zack bersikeras. "Bagaimana dengan kencan?"
Aerith terkejut. "Jangan konyol." katanya.
"Dimana aku?"
"Kau ada di pemukiman kumuh." jawab Aerith.
"Aku harus segera kembali." kata Zack, berjalan keluar gereja.
"Apakah kau mau kuantar?"
Zack memandang Aerith. "Kenapa?" tanyanya. "Aku tahu, kau pasti ingin lebih lama bersamaku?" goda Zack bercanda.
Aerith terdiam sejenak, kemudian menjawab jujur, "Ya."
Zack menjadi salah tingkah. "Ah.. Er... Emmm..."
Aerith mengantarkan Zack berjalan melewati pemukiman kumuh.
"Beginikah pemukiman kumuh?" tanya Zack.
"Kenapa?" tanya Aerith cemas. "Apa kau merasa tidak nyaman?"
"Bukan begitu." bantah Zack. "Aku merasa seperti di rumah."
Aerith bertepuk tangan senang. "Aku tahu kau akan berkata begitu."
"Apakah kau perlu sesenang itu karena aku bicara begitu?" tanya Zack bingung.
"Aku dibesarkan disini." ujar Aerith bercerita. "Aku tidak pernah melihat langit seumur hidupku."
"Kalau begitu, suatu saat nanti aku akan mengajakmu keluar dari sini dan melihat langit." kata Zack.
"Janji?"
"Janji."
"Apakah kau keberatan jika kita mampir sebentar ke toko itu?" tanya Aerith, memohon pada Zack dengan ekspresi memelas. "Kumohon... Hanya sebentar..."
"Baiklah." jawab Zack.
"Hore!" seru Aerith senang. Ia melihat-lihat barang-barang di toko itu.
"Apakah laki-laki itu kekasihmu?" tanya penjual paa Aerith.
"Hmm.. kau belum yakin." jawab Aerith tidak serius.
"Kurasa ia cukup tampan." kata penjaga.
Aerith tertawa. "Tidak, kami baru saja bertemu."
"Tapi ada kemungkinan kalian akan lebih dekat?" tanya penjual menggoda.
Zack mendekati Aerith, ikut melihat barang-barang dagangan. "Aku ingin membelikanmu sesuatu." katanya.
"Untuk apa?" tanya Aerith. "Bukankah kau akan membayarku dengan berkencan?"
"Kalau begitu, aku ingin membelikanmu sesuatu sebagai hadiah perkenalan." Zack mengambil sebuah pita berwarna pink. Ia memakaikan pita itu ke rambut Aerith.
Pita pink tersebut akan selalu dipakai Aerith sampai kematiannya. Setelah Aerith meninggal, pita tersebut disimpan oleh Cloud.
Setelah berjalan-jalan di toko, Zack dan Aerith mengobrol sebentar di taman bermain.
"Aku sangat takut pada prajurit." ujar Aerith bercerita. "Mereka sangat menakutkan. Mereka mencintai peperangan."
"Emmm.... Sebenarnya... aku adalah prajurit." kata Zack.
Suasana menjadi tidak enak. Tapi kemudian Aerith berkata, mencairkan suasana. "Tapi kurasa kau tidak terlalu menakutkan." katanya. "Matamu sangat cantik."
"Benarkah?" tanya Zack, ceria lagi. "Mataku biru karena polusi mako. Mataku seperti warna langit bukan? Kau mau lihat?"
Zack mendekatkan kepalanya ke arah Aerith, sangat dekat dengan wajah Aerith. Aerith tenggelam dalam pandangan mata Zack selama beberapa saat, dan kemudian tersadar. Ia mendorong Zack menjauh.
"Kita... akan bertemu lagi bukan?" tanya Aerith berharap.
"Tentu saja!" seru Zack bersemangat. "Aku kan harus membayar hutang kencanku."
Mereka berdua bertukar nomor ponsel, kemudian Zack kembali ke Shinra.
Hubungan Zack dan Aerith (dari beberapa scene yang ada di game)
"Kenapa kau tidak menjual bunga-bunga itu?" tanya Zack. "Kau bisa membuat Midgar penuh dengan bunga. Selain itu, kau bisa memenuhi dompetmu dengan uang."
Aerith berpikir. "Hmm.. Benarkah?" tanyanya. "Aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya."
"Kalau kau mau, aku akan membuatkan gorobak bunga untukmu."
"Benarkah?"
Zack mengangguk, membuat Aerith merasa sangat senang.
Setelah kematian guru sekaligus sahabat Zack, Angeal, Zack menemui Aerith di gereja.
"Zack, aku sangat takut melihat langit tapi kurasa bunga-bunga akan menyukainya." ujar Aerith. Zack tidak bersuara sedikitpun.
Aerith menoleh dan melihat Zack sedang duduk cukup jauh dan membelakanginya. Zack menangis.
Aerith berjalan mendekati Zack dan memeluknya dari belakang.
Ketika Aerith dan Zack sedang bemain-main di taman, Zack meminta Aerith berjanji untuknya.
"Jika kita bertemu, aku ingin kau berjanji padaku." kata Zack. "Bukan hanya janji biasa. Misalnya, setiap kali kita bertemu, kau harus mengenakan pakaian pink."
Aerith tertawa. "Jangan konyol."
Zack membuatkan Aerith gerobak bunga di gereja.
Aerith cemberut. "Gerobaknya tidak terlalu bagus." ujarnya mengeluh.
"Kurasa tidak buruk." kata Zack, membela hasil karyanya. "Jangan terlalu pemilih."
"Tidak ada salahnya memiliki beberapa keinginan kecil."
"Memangnya ada berapa keinginan kecilmu?" tanya Zack penasaran.
Aerith menghitung dengan jarinya. "Dua puluh.... tiga?"
Zack terkejut. "Dua puluh tiga?" tanyanya. "Tulislah di kertas agar aku tidak lupa."
Aerith menulis di kertas.
Tiba-tiba ponsel Zack berdering. Ada panggilan dari Shinra, menyuruh Zack kembali.
Aerith menyerahkan catatan keinginannya. Zack menyimpannya di saku tanpa melihatnya.
"Aku harus segera kembali." katanya.
Aerith mengangguk, kecewa.
Zack ditugaskan untuk melakukan misi di Nibelheim, yang nantinya akan membawa Zack pada kematiannya.
"Kau kelihatan tidak senang." kata Kunsel, melihat Zack murung mendapat tugas tersebut.
"Ya." jawab Zack jujur. "Karena aku akan berada jauh dari Aerith."
Kunsel tertawa. "Ya, ya. Kau sedang jatuh cinta." kata Kunsel. "Pergilah temui dia untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku akan mencari alasan pada Sephiroth."
Zack senang dan berterima kasih pada Kunsel.
Zack bergegas berlari ke gereja.
"Sudah selesai dengan pekerjaanmu?" tanya Aerith berharap.
"Tidak. Sebenarnya aku harus pergi jauh dari Midgar selama beberapa lama." kata Zack.
Aerith murung.
"Hey, tenang saja. Aku akan segera kembali." janji Zack, menenangkan.
Setelah itu, Zack mengantar Aerith menjual bunganya. Ia meminta Tseng menjaga Aerith selama ia tidak ada.
Saat Zack berada di Nibelheim, Aerith meneleponnya.
"Hai Aerith, kurasa ini bukan saat yang tepat untuk..."
"Ya, aku mengerti." jawab Aerith pengertian.
"Aku akan meneleponmu nanti."
"Tidak, tidak perlu." kata Aerith.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menemuimu."jawab Zack, mengerti maksud Aerith.
"Aku akan menunggumu disini."
Setelah pertarungan melawan Sephiroth, Zack dan Cloud pingsan dan menjadi bahan percobaan Hojo selama 4 tahun. Ketika akhirnya Zack sadar dan berhasil menyelamatkan Cloud, ia tidak sadar bahwa ia sudah tidak sadar selama 4 tahun. Secera tidak sengaja ia merasakan sebuah kertas di kantong bajunya. Catatan keinginan Aerith.
"Aku memang punya banyak keinginan, tapi aku takut kau tidak bisa mengingatnya." kata Aerith dalam catatannya. "Karena itulah aku menyimpulkannya menjadi 1 keinginan. Keinginanku adalah... Bersama denganmu lebih lama."
Zack merasa terharu. "Cloud." panggilnya pada Cloud yang linglung. Sadar tidak sadar karena pengaruh injeksi sel yang dilakukan Hojo. "Kita akan kembali ke Midgar. Kau akan ikut bukan?"
Sepanjang perjalanan kembali ke Midgar, Zack selalu melindungi Cloud yang tidak sadar. Ia tidak pernah meninggalkan Cloud.
Setelah mengalahkan Genesis, Zack melihat monster copy Angeal. Ia membawa surat dari Aerith. Itu adalah surat Aerith yang ke 89. Sudah 4 tahun Zack tidak juga kembali ke Midgar. Aerith sangat cemas. "Kuharap surat ini sampai ke tanganmu, Zack." kata Aerith di akhir suratnya.
Surat pertama sampai ke 88 dititipkan ke Tseng, namun Tseng tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada Zack. Ia meminta Reno, Rude, dan Cissnei untuk mencari Zack. "Aku punya 88 surat yang harus diberikan padanya." kata Tseng.
Namun mereka terlambat.
Ketika Midgar sudah di depan mata. Pasukan Shinra dengan jumlah yang gila-gilaan menghadan jalan Zack.
Zack meletakkan Cloud di tempat tersembunyi dan melawan pasukan Shinra itu sendirian.
Walaupun berusaha bertarung sekuat tenaga, tapi tetap saja tidak bisa melawan pasukan yang jumlahnya berjuta-juta.
Zack sekarat.
Cloud akhirnya 1/4 sadar (masih linglung) dan merangkak mendekati Zack.
"Kau harus tetap hidup demi kita berdua. Mulai sekarang kau adalah setengah dari diriku yang hidup." kata Zack pada Cloud. "Mulai sekarang, cita-cita, impian, kebanggaan, dan kehormatanku semuanya menjadi milikmu."
Zack menyerahkan pedangnya pada Cloud, kemudian tersenyum dan meninggal dunia.
Cloud berteriak, menangisi kematian Zack. "Terima kasih Zack." katanya. "Aku tidak akan pernah lupa."
Cloud pergi, meninggalkan Zack dan berjalan menuju Midgar, yang hanya tinggal selangkah lagi.
Hujan turun dengan deras. Di gereja di Midgar, Aerith merasakan suatu firasat buruk. Ia berdoa. Aerith telah mengenakan baju pink, menunggu Zack datang menemuinya.
Angeal menjemput Zack.
"Aku ingin memiliki sayap itu juga." ujar Zack, melihat sayap yang dimiliki Angeal. "Cloud, jika kau bertemu Aerith di Midgar, sampaikan salamku untuknya. Menurutmu, apakah sekarang aku adalah seorang pahlawan?"
Aerith tidak pernah lagi bertemu dengan Zack dan tidak tahu kalau Zack sudah meninggal.






















